Jumat, 23 Agustus 2013


                           Untuk Order silahkan Telpon / HP : +6285759417889


CV Nuansa Bambu didirikan pada bulan Oktober 1996 atas hasil kerjasama antara Almarhum Bapak Suroso dan beberapa karyawannya yang memang pakar dalam membuat berbagai macam Furniture dari bahan dasar Bambu. Tidak semua jenis bambu dapat dibuat Furniture, karena pada dasarnya sebuah furniture yang dapat bertahan sehingga puluhan tahun maka bahan dasar pembuatannya pun harus lah dari bahan dasar yang berkualitas, dari daerah tertentu dan waktu tertentu ketika penebangannya.

Jika menebang Bambu tidak didasarkan pada waktu dan tempat yang tepat, maka sudah dapat dipastikan bahwa Bambu itu hanya dapat bertahan beberapa bulan saja karena sudah habis oleh Rayap / Anai-anai Bambu dan pada intinya Bambu yang tidak memenuhi Standart kualitas maka CV Nuansa Bambu akan menolak bambu tersebut menjadi bahan dasar Furniture.

Selain Furniture, CV Nuansa Bambu pun memproduksi Gazebo / Saung yang ukuran dan desainnya disesuaikan dengan keinginan para Konsumen, seperti membuat Resto, Cafe, Villa, Interior rumah dll yang semuanya berbahan dasar Bambu dan dikreasikan dengan balutan tali Rotan.

Jenis-jenis Bambu yang terdapat di Indonesia diperkirakan sekitar 159 spesies dari total 1.250 jenis bambu yang terdapat di dunia. Bahkan sekitar 88 jenis bambu yang ada di Indonesia merupakan tanaman endemik.

Bambu merupakan jenis rumput-rumputan yang dan beruas. Bambu juga merupakan anggota famili Poaceae yang terdiri atas 70 genus. Bambu termasuk jenis tanaman yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Beberapa jenis bambu mampu tumbuh hingga sepanjang 60 cm dalam sehari.

Indonesia merupakan salah satu wilayah yang menjadi surga bagi jenis tanaman yang disebut juga sebagai buluh, aur, dan eru ini. Diperkirakan terdapat sedikitnya 159 jenis bambu di Indonesia yang 88 diantaranya merupakan spesies endemik Indonesia.


Beberapa Jenis Bambu yang dapat dibuat Furniture dan Gazebo

1. Gigantochloa atroviolacea (Bambu Hitam; Bambu Wulung; Gombong) di Jawa.
    


2.  Bambusa Vulgaris (Bambu Tutul) Bambu Tutul sebagian besar digunakan untuk furniture, untuk dinding, dan lantai rumah, serta untuk kerajinan tangan.




3. Bambusa Vulgaris (Bambu Kuning) Bambu Kuning digunakan untuk mebel, bahan pembuat kertas, kerajinan tangan dan dapat ditanam di halaman rumah karena cukup menarik sebagai tanaman hias serta untuk obat penyakit kuning atau lever.


Hanya ketiga jenis Bambu itulah yang bagus untuk dibuat furniture dan juga Gazebo / Saung karena dari semua jenis bambu dari segi ketahanan dan kualitasnya sudah teruji

Furniture dari bahan Bambu sekarang ini amat diminati masyarakat, selain murah daripada Furniture berbahan Kayu, furniture Bambu juga Flexibel untuk ditempatkan dimana saja karena kesan yang ditimbulkan daripada Bambu ini terkesan Natural dan kembali ke Alam

Menggali Peluang Ekspor untuk Produk dari Bambu Indonesia merupakan negara penghasil bambu yang cukup besar. Banyak manfaat yang diambil dari pohon bambu, terlihat dari produk-produk yang dihasilkan. Setiap propinsi di Indonesia mempunyai tanaman bambu, baik tumbuh secara liar, ataupun sengaja ditanam di lahan perkebunan. Bambu merupakan kekayaan hutan bukan kayu yang merupakan bagian dari kekayaan sumber daya hutan Indonesia. Bambu dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penggunaan kayu di hutan yang semakin terbatas keberadaannya.

Di desa-desa, pemanfaatan bambu seringkali terlihat pada perlengkapan rumah tangga. Namun, sekarang makin berkembang menjadi berbagai macam keperluan industri, sehingga bagi masyarakat di pedesaan dikategorikan sebagai penunjang utama perekonomian masyarakat desa. Beberapa kemudahan dari bambu, antara lain, penanamannya cukup dilakukan sekali saja karena bambu akan berkembang biak dengan sendirinya dan mudah tumbuh pada habitat yang sesuai dan selanjutnya dipanen sesuai dengan kebutuhan. Dalam pertumbuhannya. tentunya tidak terlepas dari pengaruh kondisi lingkungan tempat tumbuh, pola tanam dan teknik pemeliharaan yang memadai. Dengan demikian, faktor lingkungan penting untuk diketahui agar dapat berproduksi secara optimal.

 Peningkatan penggunaan beberapa jenis bambu menyebabkan tanaman bambu rakyat tereksploitasi secara tidak terkendali tanpa diimbangi dengan tindakan pembudidayaan. Soendjoto (1997) menyatakan bahwa salah satu bentuk penurunan, pengrusakan dan pemusnahan ragam hayati adalah pemanenan tanpa upaya budidaya, penebangan dan mengintroduksi jenis baru. Belum membudayanya usaha pelestarian terhadap bambu disebabkan tegakan-tegakan bambu yang umumnya hidup pada lahan-lahan rakyat nampaknya masih dianggap cukup. Selain itu, informasi dan pengetahuan tentang budidaya jenis-jenis bambu masih sangat kurang, demikian pula pengenalan terhadap jenis-jenis bambu yang ada di Indonesia serta pemanfaatannya. Untuk itu,  diperlukan suatu sarana pengembangan tanaman bambu khususnya pada jenis-jenis yang umumnya telah digunakan maupun yang belum dikenal oleh masyarakat namun mempunyai banyak manfaat. 1. Lahan Topografi Bambu tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi 100 – 2200 m di atas permukaan laut.

Walaupun demikian, tidak semua jenis bambu dapat tumbuh dengan baik di tempat yang tinggi. Namun, pada tempat-tempat yang lembab atau yang kondisi curah hujannya tinggi dapat mencapai pertumbuhan terbaik, seperti di tepi sungai, di tebing-tebing yang curam. Pada tempat-tempat yang disenangi, umur tanaman 4 tahun perumpunan sudah dapat terjadi secara normal, yang mana jumlah rumpun sudah dapat mencapai 30 batang dengan diameter rata- rata di atas 7 cm. Bentuk Topografi lahan pengembangan bambu secara umum dapat dibagi 3 macam: berombak, bergelombang dan bergunung.  Satuan topografi berombak mempunyai kemiringan 3%–8%, bergelombang 9%–15% dan bergunung > 30%. 2. Iklim Umumnya tanaman bambu dapat tumbuh dengan baik dan tersebar di mana-mana, walaupun dalam pertumbuhannya dapat dipengaruhi oleh keadaan iklim. Unsur-unsur iklim meliputi sinar matahari, suhu, curah hujan dan kelembaban. Tempat yang disukai tanaman bambu adalah lahan yang terbuka di mana sinar matahari dapat langsung memasuki celah-celah rumpun sehingga proses fotosintesis dapat berjalan lancar, selain itu juga dapat mencegah tumbuhnya cendawan yang akan mengganggu kesuburan tanaman bambu dan dapat berakibat merubah warna bambu tersebut menjadi kurang baik. Lingkungan yang sesuai untuk tanaman bambu adalah bersuhu 8,8°C - 36°C. Tipe iklim untuk tumbuhan bambu mulai dari A, B, C, D sampai E (mulai dari iklim basah sampai kering).

 Jenis tanah di lokasi praktek mulai dari tanah berat sampai ringan,  dan mulai dari tanah subur sampai kurang subur. Sementara itu, lembah merupakan tempat yang subur, sedangkan pada bagian bukit yang didominasi oleh pasir yang rata-rata kandungan haranya sangat rendah yang menyebabkan pada bagian ini kurang subur. Sifat fisik tanah pada lokasi praktek dengan pH 5,11 dan memiliki kandungan unsur hara makro (N dan K) dalam kondisi rata-rata rendah sedangkan P yang tersedia dalam keadaan cukup sedangkan kandungan bahan organik tanah juga sangat rendah yang rata-rata 1,81%. Rata-rata suhu pada siang hari waktu musim penghujan adalah 21°C dengan kelembaban mencapai 75,1%, sedangkan pada musim kemarau rata-rata suhu pada siang hari dapat mencapai 25,83°C dan kelembaban udara rata 61 %.


Beberapa Jenis Furniture Bambu yang telah jadi dan kualitas Export

Awal Proses Pembuatan Kursi Bambu



 1. Rangka Kursi Duduk Bali Susun ( Bambu Hitam ) 2. Kursi Duduk Bali Susun yang telah selesai




Untuk Order silahkan Telpon / HP : +6285759417889


1 komentar: